BEIRUT — Bayangkan Anda baru saja menandatangani surat perdamaian, baru mau menyeduh kopi sembari menghela napas lega, tiba-tiba tetangga sebelah melempar kembang api seukuran bus antar-kota ke atap rumah Anda. Itulah ringkasan situasi di Lebanon Rabu ini. Hanya dalam hitungan jam setelah tinta perjanjian gencatan senjata antara AS dan Iran mengering yang seharusnya menjadi momen peluk-pelukan diplomatik Israel memutuskan untuk melakukan plot twist paling brutal dalam sejarah geopolitik modern. Militer Israel nampaknya tidak mengenal istilah "istirahat sejenak." Dalam sebuah aksi yang lebih intens dari film action mana pun, mereka meluncurkan serangan udara paling masif sepanjang sejarah perang ini. 100 lokasi digempur habis-habisan hanya dalam waktu 10 menit. Dari Beirut yang elegan, Gunung Lebanon yang sejuk, hingga Lembah Bekaa yang subur, semuanya mendadak dihiasi kolom asap raksasa. Tel Aviv mengklaim ini adalah hasil "intelijen presisi" yang sudah disiapkan berminggu-minggu. Targetnya? Unit elit Hizbullah, sistem rudal, dan tentu saja, infrastruktur yang menurut mereka "mengganggu ketenangan pagi." Menteri Pertahanan Israel, Yisrael Katz, dengan gaya bicara khas antagonis novel kelas atas, menyatakan bahwa mereka bertekad memisahkan urusan perang dengan Iran dan "membersihkan" Lebanon. Sementara itu, Kepala Staf Eyal Zamir bersumpah tidak akan ada tombol pause dalam kamus tempur mereka. Di sisi lain peta, Teheran tidak tinggal diam melihat sekutunya dijadikan samsak udara. Pejabat senior Iran, dengan nada bicara yang dingin dan penuh aura dendam ala bangsawan yang dikhianati, langsung memberikan testimoni kepada Aljazirah. "Kami akan menghukum Israel. Ini bukan sekadar pelanggaran, ini adalah penghinaan terhadap ketentuan gencatan senjata. Anggap saja ini surat peringatan dengan stempel api," (Versi dramatisasi dari pernyataan resmi Iran). Dunia kini menahan napas. Jika gencatan senjata saja dianggap seperti brosur diskon yang sudah kadaluwarsa oleh Israel, maka "hukuman" dari Iran diprediksi bakal menjadi sekuel yang tidak ingin ditonton oleh warga sipil mana pun. Namun, di balik adu urat syaraf para petinggi, realitanya jauh lebih kelam. Menteri Kesehatan Lebanon melaporkan lorong-lorong RS kini lebih penuh daripada pasar malam, namun isinya adalah martir dan korban luka. Palang Merah Lebanon mengerahkan 100 unit ambulans yang berpacu dengan waktu di antara reruntuhan Tirus dan Beirut. Penduduk di wilayah Tirus dipaksa melakukan maraton darurat ke arah utara Sungai Zahrani setelah militer Israel mengeluarkan peringatan lewat "Toa" langit. Hingga berita ini diturunkan, debu di Beirut belum juga mengendap. Agresi yang dimulai dengan dalih melawan Hizbullah ini telah menelan hampir 1.500 nyawa. Apakah ini akhir dari drama? Ataukah ini justru season baru di mana gencatan senjata hanyalah judul bab untuk perang yang lebih kolosal? Kita tunggu saja balasan dari "sang sutradara" di Teheran.
